Pages

Kamis, 12 Mei 2011

Press Realease,Aksi Simpatik “Indonesia Optimis Tanpa Riba”

Indonesia yang hari ini masih dalam jeratan penjajahan gaya baru (neo Imprealisme) yang menjerat tatanan ekonomi bangsa ini, mulai dari pengusaan aset negara oleh asing, suap, produk asing yang menyerbu negeri ini, hingga yang terpenting jeratan bunga atau riba yang hari ini mengakar dalam sistem perekonomian bangsa, hingga ketatanan masyarakatnya.

Roy Davies dan Glyn Davies, dalam bukunya A History of Money from Ancient Times to the Present Day (1996) mengatakan bahwa bunga/riba telah memberi andil besar dalam lebih dari 20 krisis yang terjadi sepanjang abad 20. Ini merupakan sebuah realita tatanan dunia hari ini, yang ternyata menyerang bangsa Indonesia di Tahun 1998 ketika bangsa Indonesia menghadapi krisis perekonomian yang menyebabkan kehancuran perekonomian Indonesia sering di Identikkan akibat korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang sudah mendarah daging di Indonesia. Fakta ini tidak sepenuhnya benar dikarenakan sesungguhnya bangsa Indonesia pada saat itu sudah terjerat oleh hutang luar negeri yang begitu bebas sehingga menyebabkan gagal bayar yang menyebabkan bank-bank di Indonesia pada waktu itu mengalami kehancuran. Sehingga akhirnya pemerintah harus menanggung kerugian perbankan di Indonesia pada saat itu, hingga kemudian menyebabkan pemerintah harus berhutang kepada lembaga ribawi Internasional yaitu IMF.

Selanjutnya pemerintah harus menanggung  kewajiban yang telah mencapai titik yang membahayakan ketika itu . Apabila pada tahun 2002 saja, hutang Indonesia total Rp 1401 Trilyun, (hutang luar negeri Rp 742 Trilyun, hutang dalam negeri sebesar Rp 659 Trilyun, maka pada tahun 2003, hutang Indonesia telah mencapai Rp 2000 Trilyun. Jika kita hanya mampu membayar hutang tersebut Rp 2 Trilyun setahun, berarti hutang luar negeri itu baru lunas lebih dari seribu tahun, itupun kalau tidak ditambah hutang baru. Hutang ini, jelas menjadi beban cucu dan cicit kita di masa depan, yang diprediksikan 20 turunan generasi ke depan masih menanggung hutang dan bunga ini.

Sebuah ironi untuk bangsa Indonesia yang harus kita terima hari ini, jeratan hutang yang begitu besar ternyata tidak seberapa dengan bunga yang ternyata membuat bangsa ini tidak akan terlepas dari jeratan hutang yang terus menumpuk.

Begitu besar dosa Riba hingga Allah SWT dan Rasul-Nya akan memerangi orang-orang yang memakan riba, hanya Allah SWT yang tahu pasti bahaya besar Riba. Namun jika melihat dosa di atas sudah seharusnya kita terus berusaha untuk menghindari bahaya dari riba, ternyata ada hadist Rasullulah SAW yang berkenaan dengan Riba. Bahkan Rasullulah SAW sudah jauh-Jauh hari mengkhawatirkan akan adanya krisis ekonomi ini.“Bila riba merajalela pada suata bangsa, maka mereka akan ditimpa tahun-paceklik (krisis ekonomi). Dan bila suap-menyuap merajalela,maka mereka suatu saat akan ditimpa rasa ketakutan”. (H.R. Ahmad).
 
Indonesia Optimis tanpa Riba, Terbebas dari jeratan Riba.
Ada satu pepatah yang mengatakan bahwa apa bila kita tidak bisa merubah negara, maka rubahlah lingkungan kita, seandainya tidak bisa maka rubahlah keluarga, seandainya tidak bisa maka rubahlah diri kita hingga kita mampu merubah dunia. Hari ini  masyarakat Indonesia di hadapkan pada fakta bahwa Riba sudah begitu menjerat bangsa ini mulai dari perbankan sampai ke dana haji yang bernuansa ibadah, semua menggunakan riba.
Maka, mulai hari ini kita bangun optimisme kita bersama bahwa transaksi yang sesuai syariah dan di berkahi Allah SWT dapat segera terwujud, riba/ bunga dapat segera hilang dari tanah air Indonesia. Sehingga kita tida harus pusing lagi melihat APBN bangsa yang dikeruk asing lewat pembayaran bunga, bencana alam yang hari ini melanda, perekonomian yang rentan krisis dapat segela lenyap dan hilang dari muka bumi ini. Wallahualam bi sawab.

Bebas dari jeratan Riba.
Untuk itu kami sebagai mahasiswa yang bergerak dalam pengkajiaan dan pengembangan Ekonomi islam. Dalam Aksi Simpatik FoSSEI (Forum Silaturahim Studi Ekonomi Islam) “Indonesia Optimis tanpa Riba” Tanggal 13 Mei 2011 di Bundaran HI, Jakarta . menghimbau agar :
1.       1.) Melalui Fakta diatas kami menghimbau Masyarakat untuk meninggalkan Riba/ Bunga yang hari ini banyak terdapat dalam lembaga keuangan di Indonesia.
2.      2.) Pemerintah harus meninggalkan lingkaran pinjaman berbasis bunga baik melalui pinjaman luar negeri, obligasi, dan SBI yang telah menguras bunga dan pelunasan hutangnya hingga hari ni APBN  bangsa indonesia.
3.       3.) Masyarakat di minta tetap Optimis dan turut aktif menghindari transaksi Riba dimanapun yang jelas-jelas telah membawa kesengsaraan.
Presidium Nasional FoSSEI

Imam Punarko

Minggu, 08 Mei 2011

Petunjuk Pelaksana Milad FoSSEI ke-XI, 13 Mei 2011 dan Kampanye Nasional FoSSEI


Assalammualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Untuk Di Ingat …
“Tidak sempurna iman salah seorang diantara kamu, sehingga suka kepada saudaranya (sesama muslim) seperti yang ia suka pada dirinya sendiri” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Sesungguhnya Allah Pengasih. Ia suka sekali kepada belas kasih, dan ia akan memberi kepada orang yang berbelas kasih sesuatu yang tidak diberikan kepada orang yang keras hati dan juga sesuatu yang tidak diberikan kepada lainnya” (HR. Muslim)

“… dan tolong-menolonglah kamu untuk mengerjakan kebaikan dan ketaqwaan…” ( Al-Ma’idah :2)

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kukuh”. (Ash-Shaf: 4)

Tema Untuk kegiatan Kampanye Nasional  FoSSEI, 13 Mei 2011. “Indonesia Optimis tanpa Riba”
LATAR BELAKANG
Perjuangan dalam menegakkan ekonomi islam membutuhkan pengorbanan dan semangat juang yang tinggi disertai dengan kesatuan dalam ikatan ukhuwah antara para pejuang itu sendiri. Ekonomi islam yang sudah menunjukkan eksistensinya dengan adanya pelarangan Riba, maysir, Gharar, Bhatil, dll. Sehingga tatanan ekonomi yang dimulai sejak zaman Rasullulah SAW (abad 7) kemudian berjalan hingga abad  ke 14, merupakan masa yang sangat stabil ketika masyarakatnya menjalankan sistem perekonomian secara islam. Hari ini fakta menunjukkan ekonomi kapitalisme yang menjadi main stream

( arus utama ) ekonomi banyak menemui kegagalan sehingga perlu ekonomi yang menerapkan nilai-nilai keiliahan, dengan demikian ekonomi yang berkesejahteraan menjadi sebuah kenyataan.
Elemen-elemen bangsa yang salah satunya adalah mahasiswa hari ini harus mampu memberikan kontribusi selaku  (agent of change), pergerakannya harus mencerdaskan masyarakat secara umum dan memberikan solusi dari permasalahan yang terjadi. Mahasiswa yang tergabung dalam gerakan ekonomi islam dalam hal ini FoSSEI, harus mempunyai sebuah idealisme ekonomi islam yang di sosialisasikan kepada masyarakat umum sehingga mereka dapat lepas dari jeratan ekonomi kapitalisme yang menyandarkan pada bunga (riba), Judi (maysir), gharar (ketidakjelasan), Tadlis (suap), dan aspek-aspek ekonomi lainnya yang nyata-nyata membawa kehancuran. Dengan demikian diharapkan masyarakat tersadarkan dan kemudian menerapkan ekonomi islam mulai dari kehidupan paling dasarnya (pemenuhan Konsumsi ) aspek yang lebih luas transaksi ekonomi.
Untuk itu, hari ini saya selaku Presidium Nasional menghimbau kepada setiap elemen FoSSEI diseluruh cabang FoSSEI yang hari ini terwakili dalam lingkup Kampus (KSEI), Komisariat, Dan Regional. Untuk kembali turun kemasyarakat mengimplementasikan nilai-nilai idealisme mahasiswa demi kepentingan rakyat, pada saat Milad FoSSEI ke 11 tanggal 13 mei 2011.
FoSSEI hari ini mengangkat tema : “  Indonesia Optimis Tanpa Riba“ sebuah momentum mencerdaskan masyarakat tentang bahaya bunga/riba, dan mengevaluasi masyarakat bahwa Riba hari ini memiliki multiplayer evect bagi sosial ekonomi masyarat.
Untuk Itu dalam mempersiapkan KAMPANYE NASIONAL FoSSEI, Regional baik dalam lingkup KSEI maupun KOMSAT harap melakukan beberapa agenda Pra KAMNAS, saat KAMNAS, dan Pasca KAMNAS.
Diantara yang dapat dilakukan :
PRA KAMNAS
1.       Melakukan sosialisasi dan aksi pencerdasan anti Riba di Setiap KSEI-KSEI, baik berupa kajian, seminar.
2.       Setiap Kader FoSSEI meng-Up Load Opinion, Artikel, dan Tulisan Anti-Riba di Media On-Line, BLOG. Facebook, Twitter, dll
KAMNAS
Kegiatan Kamnas di masing-masing Regional memiliki karakteristiknya masing-masing, untuk itu setiap regional dalam melaksanakan KAMNAS wajib mengacu dan mensosialisasikan “Indonesia Optimis Tanpa Riba”.
PRA KAMNAS
Setiap kader FoSSEI setelah KAMNAS membuat kegiatan-kegiatan bagi objek yang telah di dakwahi ekonomi islam, membuat komunitas Pelajar seperti yang pernah di lakukan oleh FoSSEI tahun-tahun sebelumnya, membuat group di media online seperti facebook demi menjaga ukhuwah dan komunikasi, memberikan tausiyah ekonomi islam dan lain sebagainya kepada objek dakwah KAMNAS. Oleh karena itu, dalam pelaksanaan KAMNAS absensi dan database harus benar-benar di manfaatkan dengan baik.
Demikian petunjuk pelaksanaan Milad dan KAMNAS FoSSEI, semoga dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Semoga Allah SWT memudahkan.
Waalaikumsalam, Wm, Wb


                                                                                                Presidium Nasional FoSSEI 2010-2012


                                                                                                (Imam Punarko)



Rabu, 04 Mei 2011

MEMUDAHKAN, BUKAN MENYULITKAN

Bersama Allah melalui kitabnya
Kalau engkau mau membaca kitab Allah SWT, kemudian merenungkan kandungan, maka engkau akan mengetahui banyak sekali ayat yang berkaitan dengan hukum-hukum (taklif) yang dijelaskan oleh Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya dengan segala kemudahan. “Dia tidak menjadikan atas kamu dalam agama ini kesulitan…”
Dalam menjelaskan akidah, Allah menjelaskan dengan uslub yang mudah, sehingga bisa dipahami oleh orang yang alim maupun yang awam.
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (ali-Imran :190)
 Andaikan ada didalam keduanya (langit dan bumi tuhan-tuhan selain Allah , Maka Hancurlah keduanya.
Niscaya sebagian mereka merasa lebih tinggi atas sebagian yang lain.
Jika demikian, pasti mereka menjadikan yang memiliki ‘Arsy (Allah) sebagai tujuan.
Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia."(Al Ikhlas: 1-4)
Demikianlah akidah itu disampaikan dengan beragam uslub. Suatu waktu berdialog dengan perasaan manusia, di saat lain mengajak bicara akal mereka, atau mengajukan tantangan kepada manusia. Al-Qur’an mengajak manusia untuk berpikir dan merenung. Semua itu dengna uslub yang mudah agar meresap sampai pada akal pikiran dan hati nurani
Alangkah mudahnya gaya Al-Qur’an dalam memaparkan masalah ibadah, seperti shalat, zakat, haji, puasa dan jihad serta ibadah-ibadah yang lainnya.

Melalui Shalat
Allah SWT, memudahkan pelaksaan shalat dan menghilangkan kesulitan dalam masalah wudhu, pada saat air sulit didapatkan atau sebab lainnya. Dalam kondisi seperti itu, menggunakan debu yang suci untuk bertayamum diperbolehkan. Bahkan jika pun air dan debu tidak mereka dapatkan, mereka tetap bisa shalat.
Apabila dalam bepergian, kita diberi kerianganan untuk melakukan shalat dengan qashar (diringkas). Demikian juga ketika sedang sakit, diperbolehkan untuk shalat sambil duduk. Jika duduk tidak mampu, shalat sambil terlentang, dan jika tetap tidak mampu juga, diperbolehkan shalat dengan isyarat mata, demikian seterusnya.
Ada sebagian sahabat yang mengadu kepada Rasullulah SAW  tentang ketidakmampuannya untuk melakukan shalat sambil berdiri. Rasullulah SAW bersabda kepadanya,
“shalatlah kamu dengan berdiri, jika tidak mampu maka dengan duduk, dan jika tidak mampu maka diatas lambungmu ( miring)”

Memulai Puasa
Allah SWT, berfirman,
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,  (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka Barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi Makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan[114], Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.(Al-Baqarah : 183-184)
Perintah Allah yang didahului dnegna seruan yang lembut dan penuh syahdu –wahai orang-orang yang beriman,,,- ini merupakan ungkapan yang istimewa dan menyenangkan hati. Kemudian Allah memberitahukan bahwa melakukan ibadah puasa ini bukan merupakan suatu bid’ah buatan manusia, melainkan kewajiban yang juga pernah diwajibkan atas umat sebelum kamu. Dengan demikan, kewajiban ini akan terasa lebih ringan dilaksanakan, karena pernah juga dilakukan oleh umat sebelum ini yang juga manusia biasa seperti kita. Karenanya, terimalah sebagaimana mereka menerima.
…diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu..
Alangkah indahnya ungkapan itu, ungkapan tersebut mampu membuat hati menjadi senang, karena kita mestinya berpuasa sebulan lamanya, akan tetapi ketika Alah mewajibkan nya atas kita, dia menggunakan kata-kata yang menyejukkan sehingga kita menjadi ringan dalam melaksanakannya.
Selain hanya beberapa hari saja, kemudahan itu semakin teras bertambah dan kesuliatan pun semkain hilang ketika seoran gmuslim sedang dalam kondisi sakit atua bepergian.

Melalui Haji
Kita sering menyaksikan perselisihan pendapat dikalangan umat islam tentang manasik haji. Banyak diantara mereka yang berlebihan dalam berbicara seputar masalah ini dan merasa paling alim di atas bumi. Mereka berlebihan dalam menentukan hukum dan aturan pelaksanaan haji, sehingga justru mempersulit kaum muslimin itu sendiri.
Cobalah simak baik-baik apa yang dikatakan ibmu Al-Abbar, bahwa seseorang berkata kepada nabi SAW, “saya berziarah sebelum melempar” nabi berkata “ tidak apa-apa”, orang itu berkata lagi, “saya mencukur sebelum menyembelih, “nabi menjawab” tidak mengapa”. Dalam riwayat lian disebutkan bahwa nabi SAW tidak ditanya tentang sesuatu pun kecuali beliau menjawab, “lakukanlah, itu tidak mengapa” ( HR. Bukhari)
Sebagai ulama mengatakan ,”melanggar dalam manasik haji itu melanggar sunah.” Ibnu Hazm mengatakan , “mereka tidak menyalahi sunah dan tidak melanggar sunah, karena ia merupakan sesuatu yang diperbolehkan oleh Rasullulah SAW, apalagi beliau tidak melihat didalamnya dosa. Tetapi dalam hal ini mereka sekedar meninggalkan yang lebih afdhal saja.”
Kalian semua, wahai saudaraku para dai, harus memahami, bahwa masalah tersebut adalah masalah khilafiah antara sunah dengan mubah, bukan antara wajib dengan mubah, bukan pula sunah dengan bid’ah, yang paling penting dalam hal ini adalah pelaksanaan, sehingga wajib bagi dai yang faqih untuk tidak memperberat manusia, apabila mereka mendahulukan atau mengakhirkan satu dengan yang lain. Setiap dai tidak mempersulit, karena Rasulullah tela memberikan teladan baik kepada kita dengan mempermudah.
Melalui Jihad
Marilah kita baca bersama ayat-ayat berikut ini, kemudian renungkanlah bagaimana manhaj dakwah Al-Qur’an dalam menerangkan kewajiban jihad fi sabillilah. Yakni dengan uslub yang dapt memperkukuh keyakinan dan menarik hati manusia untuk mengorbankan jiwanya di jalan Allah dengan penuh keikhlasan. Bahkan gugur dijalan Allah menjadi cita-cita tertinggi mereka, Allah SWT berfirman,
Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang ke luar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati; Maka Allah berfirman kepada mereka: "Matilah kamu"[154], kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.  dan berperanglah kamu sekalian di jalan Allah, dan ketahuilah Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.(Al-Baqarah : 243-244)
Sebelum memerintahkan mereka untuk berperang, Allah mendahulukan kisah yang sekiranya dapat memperkuat akidah dan menghilangkan perasaan takut mati, serta memberitahu setiap muslim, bahwa alau ajal sudah dating tidak bisa dipercepat atau ditunda seseat pun. Tidak bisa diajukan dan tidak bisa pula diundurkan meski sedetik pun.
Dengan demikian, mereka yang memahami hal ini akan merasa tenang, karena tangan manusia tidak berkuasa walau sedikit pun untuk mengurangi atau menambah, memperpendek atau memperpanjang umur seseorang. Dengan demikian, dia bisa melaksanakan jihad dengan penuh keyakinan dan tawakal terhadap ketentuan Allah dan menarik apa yang menjadi ketentuannya.
Renungkanlah, semoga Allah memberikan pemahaman kepadamu mengenai agama ini, bagaimana kisah yang menarik itu mendahuli perintah jihad, agar jihad itu menjadi ringan dna mudah diterima oleh jiwa manusia. Demi Allah, jika ini merupakan manhaj Al-Qur’an, mengapa kita tidak mengikutinya?





Memudahkan bukan menyulitkan

Setiap dai wajib melihat objek dakwahnya dengan jiwa dan pandangan seorang pendidik yang penuh kasih sayang, rendah hati, dan pemaaf. dia senantiasa mengharap kebaikan atas diri objek dakwahnya. bukan sebaiknya, memandang objek dakwah dengan pandangan penuh kepura-puraan, sok alim, dan berusaha menampilkan kesan dihadapkan mereka bahwa dirinya adalah yang paling pintar di muka bumi. sehingga objek dakwah yang kita tuju tidak tersentuh akibat tertutupi oleh disparitas kesombongan dan keangkuhan diri kita.


tersebut dalam kitab shahih bukhari-muslim, dari ubay bin ka'ab, bahwa Rasullulah bersabda,
"sesungguhnya Musa a.s pernah berdiri sebagai khatib di hadapan Israel, lalu Musa ditanya tentang sapakah manusia yang paling alim. Musa menjawab. "Aku", Serta merta Allah Ta'ala mencelanya, karena masih ada  ilmu yang belum sampai kepadanya. kemudian Allah emberi wahyu kepada nya bahwa Allah mempunyai seoran ghamba yang tinggal di pertemuan dua lautan, yang lebih alim daripada Musa, dan Allah memerintahkan Musa datang datang dan berguru kepadanya.

itulah sepenggal kisah nabi Musa yang bertemu Khidir dan kita sudah mengetahui ujung dari kisah yang melahirkan hikmah yang begitu besar kepada Nabi Musa sendiri.
dari sinilah kita sebagai seorang da'i wajib berbicara dengan manusia dengan kadar akalnya, sehingga memudahkan apa-apa yang terasa sulit dan menjelaskan apa-apa yang belum jelas bagi mereka. seorang da'i tidak perlu menampilkan seakan sebagaiseorang yang alim dan bijak, agar dikatakan manusia ialah yang paling alim.  karna jika itu terjadi maka terhapuslah amalah yang telah kita usahakan. dan kita dituntut untuk bertindak sesuai dengan apa yang menjadi fitrah seorang da'i menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran. sabda Rasullulah SAW.
"sesunggunya orang yang paling aku benci diantara kamu dan yang paling jauh dariku dihari kiamat adalah orang yang banyak bicara, orang yang mulutnya penuuh dengan omong kosong, dan orang yang suka menonjolkan kelebihan dirinya dihadapan orang lain. (HR. Timidzi)

seorang dai harus menghindarkan dirinya dari perangkat dari perangkap setan, halusnya riya' serta godaan yang memperindah hawa nafsu yang memaksanya untuk berbuat kemaksiatan, sehingga amal baiknya terhapus. Allah SWT berfirman.

Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya. (Al-Kahfi :110)

yang paling penting untuk diperhatikan oleh seorang dai dalam upaya menarik perhatian pendengarnya saat bicara dnegna mereka adalah menghubungkan antara tema yang dia bicarakan dengan realitas yang sedang dihadpi oleh objek dakwah, dengan cara membuat ilustrasi-ilustrasi yang mudah dipahami, dan menggunakan ragam uslub (gaya bahasa) yang dapat membangkitkan perhatian, serta menggunakan perbandingan-perbandingan dengan hal-hal yang serupa.
beberapa hal yang penting terkait sikap dan perilaku seorang dai dalam menyampaikan risalahnya adalah :
- mempertajam pemahaman,
- mengikut sertakan audiens dengan dialog.
- berbicara dengan sungguh-sungguh, dan sederhana
- tidak berlebih dalam melontarkan pertanyaan kepada audiens

dan yang terpenting seorang dai harus memiliki keikhlasan yang tinggi dengan bersungguh-sungguh ikhlas dalam melaksanakan perannya, yang sesungguhnya harus kita syukuri karena kita menjadi da'i, bukan menkufuri dengan sikap-sikap yang tidak selayaknya. semoga kita menjadi dai yang dapat menjadi panutan serta memiliki pengaruh dalam menarik audiens untuk kembali kedalam dekapan islam yang hakiki. waulahualam bis sawab

Selasa, 26 April 2011

Negeri yang membuat Pusing.

sebuah bangsa yang besar dengan masyarakat yang beragam membuat Indonesia menjadi bangsa yang memiliki banyak sekali polemik dan permasalahan yang sulit untuk dirunut sampai akarnya, bahkan untuk mendapatkan skala prioritas untuk menyelesaikannya kita akan menemukan masalah baru didalamnya. begitulah nasib bangsa dari yang rakyat kalangan bawah sampai masyarakat level atas semua memberikan justifikasi dari sebuah persamalahan, hanya justifikasi Allah SWT sampai saat ini yang harusnya membuat kita terbuka dan kembali berbenah dari permasalahan bangsa yang terjadi. kasus demi kasus melanda negeri ini, dari mafia kelas preman mafia hukum mencoba menghancurkan keadaan negeri ini. lihat saja kalangan bawah yang hari ini tertegun melihat premanisme melanda jalanan sampai pekarangan rumah. kalau saja anda sering naik kendaraan umum saat ini, dari mulai angkot, omprengan, sampai bus Damri, semua pakai pungli, bahkan kita sering miris melihat ada saja orang - orang yang mengaku memeliki trotoar jalan, perempatan, dan lain sebagainya. atau mungkin anda pernah melihat pedagang di pinggir jalan dari yang kaki lima sampai yang punya toko, ada saja yang meminta upah untuk uang keamanan ,kebersihan, dan uang-uang tetek bengek lainnya.
setidaknya itu yang hari ini melingkupi jejak rekam perjalanan hidup rakyat bawah, entah kenapa sebenarnya lingkup masyarakat atas tidak lepas dari hal ini, lewat kasus-kasus besar yang jawabannya didepan mata, tetapi entah menemui kesulitan dalam pengusutannya, dari kasus BLBI, Century, Freeport, Blok Cepu, Ilegal Loging, Pencurian ikan, Korupsi, mafia pajak, mafia hukum, dan kasus- kasus yang lainnya, seperti tulisan diawal tadi kalau mau dirunut sepertinya akan menambah masalah dalam tulisan ini.

hari ini kita mulai meragukan apakah bangsa ini dapat selesai dari keterpurukan yang ada, bahkan mungkin karena rumitnya masalah yang ada membuat kita sendiri sudah pasrah dan mengikuti mekanisme yang ada. kebaikan sudah mulai ditinggalkan dengan slogan-slogan aneh, seperti " mencari yang halal saja susah, apalagi yang halal", atau " yang penting kita bisa makan", bahkan ada yang begitu skeptis " itukan derita dia bukan derita saya". kalimat-kalimat diatas yang dipopulerkan rakyat bawah ternyata sudah banyak di ungkapkan oleh kaum-kaum intelektual. lihat saja dunia kampus hari ini apa yang mereka kejar, sepertinya ranah keilmuah bukan lagi fokus utama sebagian mahasiswa di Indonesia, saya katakan sebagian karena ditengah itu dunia kampus masih menjadi primadona untuk mencetak kader-kader penerus bangsa ini, penerus untuk perubahan kearah yang lebih baik. kembali kemahasiswa, dunia kampus sekarang sudah meninggalkan konteks seorang mahasiswa yang memperjuangkan aspirasi rakyat, syukur-syukur perubahan, sebagian kampus besar sekarang ini banyak diisi mahasiswa yang kerjanya main kartu, main perempuan, main mata, main judi, dan main lainnya, entah kenapa jika melihat yang seperti itu seperti melihat sekolah Taman kanak-kanak dari pada sebuah universitas.
refleksi bagi kita bersama sekarang ini adalah apa yang bisa kita kontribusikan dari keadaan sekarang ini. setidaknya ada 2 hal yang harusnya dapat kita lakukan bersama, memperbaiki diri dan juga mengajar orang untuk memperbaiki dirinya. fakta sekarang ini, bangsa kita sedang mengalami pengingatan dari Allah SWT, pernahkan kita beristirahat dari bencana paska gelombang Syunami yang meluluh lantahkan bumi Aceh. seakan kita diberikan Pekerjaan Rumah untuk terus berbenah menghadapi teguran ini.dari meletusnya gunung berapi sampai ulat bulu, memang dalam tataran keilmiahan keadaan bencana alam sebagai teguran merupakan wilayah metafisika, yang pembahasannya tidak bisa diterima logika. akan tetapi dalam prakteknya banyak sekali keilmiahan yang dipengaruhi wilayah ini, sehingga seberapa pintar orang menghindari hakikat ke esaan Allah SWT semakin terjelembab orang tersebut dalam keadaan paling bodoh.

Saya kira hari ini kita mulai bisa melihat apa yang bisa kita lakukan dari untuk terus memperbaiki diri dan orang lain, sehingga nantinya bangsa ini benar-benar bisa mengejar refolusi yang benar-benar dapat memerdekan bangsa ini. melalui blog ini saya akan membahas permasalahan bangsa ini dan memberikan solusi yang setidaknya dapat di implementasikan oleh individu-individu yang peduli akan nasib bangsa ini.

From : Imam Punarko, Jakarta, Rawamangun.